February, 1 2018

Dexa Group menggelar acara Diskusi Ilmiah "Rudy Soetikno Memorial Lecture" untuk mengenang peran dan pengabdian Rudy Soetikno di bidang farmasi nasional pada Sabtu, 27 Januari 2018.

Acara ini menghadirkan ahli hematologi dan onkologi dari Jerman yakni Prof Mathias Rummel, MJ, MD, PhD dan Dr Lothar Boning, sementara dari Indonesia dari Persatuan Hematologi-Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) yakni Prof. Dr. dr. Arry Harryanto, Sp.PD-KHOM dan Dr. dr. Hilman Tadjoedin, Sp.PD-KHOM.

Hadir dalam kesempatan ini Co Founder Dexa Group, Hetty Soetikno, Presiden Direktur Dexa Group, Ferry Soetikno, serta undangan dari kalangan dokter spesialis hematologi dan onkologi dari seluruh Indonesia, akademisi, dan media.

Raymond Tjandrawinata, Executive Director DLBS, sebagai host dalam acara yang bertemakan "On a Pursuit of a Better Lymphoma Therapy" ini, mengemukakan tentang Bendamustine sebagai alternatif terapi pengobatan bagi penderita kanker limfoma.

Dalam pidato sambutannya, Ferry Soetikno menjelaskan latar belakang dan niat mulia Rudy Soetikno untuk mendorong kemandirian industri farmasi Indonesia melalui pendirian PT Fonko International Pharmaceuticals.

"Dengan hadirnya pabrik ini beliau berharap akan banyak rakyat Indonesia yang memiliki akses terhadap produk obat onkologi yang berkualitas," demikian paparan Ferry Soetikno.

Ferry mengenang bagaimana usaha dan keinginan Rudy Soetikno membuka akses salah satu produk terapi onkologi bagi masyarakat Indonesia, yakni Bendamustine, yang sulit diperoleh karena produk ini belum dikenal di Indonesia maupun Singapura.

Pengobatan limfoma yang cukup panjang dan lebih banyak dilakukan di luar negeri menjadikan terapi ini terhitung mahal. Keprihatinan inilah yang mendorong Rudy Soetikno agar PT Fonko International mengembangkan obat kanker limfoma itu di Indonesia. Dengan produksi di dalam negeri, otomatis biaya obat pun lebih terjangkau.

Dalam diskusi ilmiah yang dimoderatori Prof DR dr A Harryanto R. Sp.PD-KHOM ini dipaparkan bagaimana penelitian Bendamustine yang dikombinasikan dengan Rituximab dalam terapi, yang selama ini diteliti oleh peneliti klinis dari RS Universitas Giessen di Jerman, Prof. Rummel MJ, MD, PhD dan sudah dipublikasikan di jurnal kedokteran terkemuka The Lancet. Hasilnya, Bendamustine efektif untuk pengobatan Limfoma Non-Hodgkin.

Prof Rummel menambahkan, pengobatan ini memberi harapan baru pada pasien yang membutuhkan, yaitu pasien limfoma Non-Hodgkin (tidak terdeteksi sel abnormal Reed-Sternberg), terutama jenis yang menyerang sel-B. "Sebagian besar kanker limfoma Non-Hodgkin menyerang sel-B, angkanya mencapai 90 persen," katanya.

Sementara dalam penjelasannya kepada kalangan media yang hadir dalam acara ini, Dr. dr. Hilman Tadjoedin, Sp.PD-KHOM, menjelaskan terapi kombinasi ini memberi harapan baru bagi pasien limfoma, terutama kanker dengan stadium rendah.

"Pengobatan ini untuk mengendalikan penyakitnya sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Misalnya menghambat pertumbuhan benjolan, walau belum sembuh sempurna tapi itu sudah sangat membantu pasien," kata Dr. dr. Hilman.

Ditambahkan Dr. dr. Hilman, perjalanan penyakit limfoma dapat diketahui dengan melihat beberapa parameter yaitu usia, penampilan pasien, nilai LDH (marker kerusakan jaringan), penyebaran di kelenjar getah bening, dan stadium penyakit. "Intinya semakin muda pasien, performanya baik (tidak sakit-sakitan), dan semakin rendah stadiumnya, maka penyakit lebih mudah disembuhkan dengan kemungkinan harapan hidup lebih panjang," jelas Dr. dr. Hilman yang juga Ketua Himpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia ini.

Sementara Presiden Direktur PT Ferron Par Pharmaceuticals, Krestijanto Pandji menyebutkan, obat bendamustine ini akan masuk dalam formularium nasional atau ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan) sekitar bulan April atau Mei 2018.

"Dengan harganya yang lebih terjangkau, produksi obat ini bisa membantu pasien Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada obat impor," ujar Pak Krestijanto. Kini produk Bendamustine telah tersedia di Indonesia dengan nama Fonkomustin yang dipasarkan oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals. Corporate Communications Dexa Medica